Ternyata status yang di update Abrar dilihat oleh Nisa. Dengan gemetaran Nisa meng-update status juga untuk Abrar.
“Ku ‘kan senantiasa menjaga #CintaMulia ini hingga seseorang kekasih melabuhkan #CintaMulia nya di hati ku lewat jalan yang di ridhoi oleh-Nya.”
Mereka pun saling membalas status tanpa seorangpun yang mengetahui tujuan dari status itu kecuali mereka sendiri
Abrar: “Kalau jodoh takkan kemana kendatipun kita dipisahkan di kutub utara dan selatan tetap akan dipertemukan di tempat dan waktu yang indah”
Nisa: “Kumenunggumu dibatas waktu akhi. Merajut cinta, membangun keluarga yang sakinah, bergenerasikan buah hati yang sholeh(ah)”
Abrar tak membalas status Nisa lagi. Dia khawatir kalau dituruti terus menerus syeitan bisa ikut campur dalam #CintaMulia nya
Intinya, sebelum halal #CintaMulia ini harus dipendam, dijaga, dirapihkan di etalase hati yang mulia.
Keesokan harinya, Abrar tak sengaja berpapasan dengan Nisa pas pulang kuliah. Mereka tak menegur sapa, agak canggung kelihatan tapi perasaan itulah yang aneh sekaligus indah bagi mereka. Setelah mereka saling berlalu, timbul penyesalan dalam diri Abrar, “Coba tadi saya sapa Nisa. melihat kembali senyuman indahnya”
Abrar melanjutkan, “Astaghfirullah, betapa bejat niatku. Ingat brar zina itu banyak, tadi hampir saja terjadi zina mata”
“Dia lebih indah dalam tunduknya, lebih sopan dalam diamnya, dan lebih anggun dengan hijab yang pada dirinya. Ya Allah”
Abrar benar – benar dicoba oleh-Nya. Bayangan Nisa senantiasa berfatamorgana di depan matanya. Hanya istighfar yang senantiasa ia ucapkan.
Ternyata perasaan yang sama dirasakan pula oleh Nisa. Sifat Abrar yang kalem tapi berkharisma senatiasa memenuhi benaknya. Bahkan kejadian pulang kuliah yang disesalkan Abrar tadi disesalkan juga oleh Nisa. Rasanya ingin menyapa tapi tetiba aja mulut ini kaku dan diam begitu saja. Namun semua ada hikmahnya, terhindar dari zina mata dan zina mulut.
Hari demi hari dilalui mereka tanpa adanya komunikasi. Terkadang rasanya mereka ingin bersua. Terkadang ingin biasa – biasa saja. Tapi ada – ada aja perasaan aneh tapi indah diantara mereka. Akan tetapi, bagi mereka ruang rindulah tempat yang tepat untuk bersua.
Abrar: “Dalam diam kumerindukannya, dalam diam kumencintainya, dan semoga dalam diam kita mengharapkan jodoh yang sama”
Nisa, “Aku tak mengharapkan apa – apa dari Tuhanku, kecuali Ia kirimkn jodoh yang siap membimbingku, bersama mengarungi bahtera rmh tangga yang sakinah”
Ya, hanya status facebooklah yang dapat memberikan sedikit jalan penyampaian perasaan diantara mereka. Hingga akhirnya suatu hari, fitnah tentang Abrar tersebar. Nisa sangat kaget dan tak percaya.
Nisa: “Aku nggak percaya kamu berbuat seperti ini. Apa yang dikatakan mereka pasti hanya kebohongan belaka”
Abrar membaca status Nisa dan Ia begitu kaget. Tidak salah lagi, pasti status yang Nisa maksud adalah dirinya. Dengan penuh pertimbangan dan rasa deg – degan ia memberanikan diri utk meng-sms Nisa utk meminta klarifikasi. Hampir setengah tahun ia tak pernah smsan dengan Nisa dan kali ini ia lakukan demi hal penting, bukan hal yang lain. Dengan memohon maaf sebesar – besarnya pada Nisa. Ia pun mulai mengetikkan kata demi kata untuk dikirimnya ke nomor Nisa.
“Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Nis, sebelumnya saya minta maaf. Barusan saya lihat statusmu. Apakah seseorang yang kamu maksud distatusmu itu adalah saya? Kalau memang benar, mohon dijelaskan ya ukhti, ada apa sebenarnya? Memang akhir – akhir ini teman –teman kayak menghiraukan saya”
Nisa membalas, “Wa ‘alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh. Bener akh, teman – teman lagi ngomongin kamu, tapi saya nggak percaya kamu begitu. semua omong kosong dan fitnah”
Abrar membalas, “Innalillah…mohon beritahukan ukhti. Apa yang mereka bicarakan tentang saya supaya bisa saya klarifikasi semua”
Nisa membalas, “Kata mereka, akhi nyimpan video yang tak senonoh dilaptop akhi. Tapi tak sedikitpun saya percaya itu”
Abrar membls, “Astaghfirullah, demi Allah ukhti, itu fitnah kalaupun ada. pasti seseorang telah mensabotase saya. Astaghfirullah”
Abrar melanjutkan, “Demi Allah ukhti, saya tak pernah melakukannya. Kalau ga percaya silahkan diperiksa laptop saya”
Nisa membalas, “Naam, akhi. Saya tahu betul Akhi Abrar orangnya gimana. Dan tak mungkin melakukan perbuatan seperti itu”
Abrar membalas, “Syukron atas kepercayaannya dan klarifikasinya ukhti. semoga kita tetap dalam lindungan-Nya”
Nisa membalas, “Aamiin, sama – sama ya akhi”
Tak sadar, ternyata berkat kejadian itu perasaan #CintaMulia antara mereka semakin kuat dan komunikasi kembali terjalin.
Namun, semua hanya bisa dikomunikasikan kalau ada hal yang penting dan sangat menghindari yang namanya modus dan bermesraan. Abrar dan Nisa sudah komitment untuk menjaga #CintaMulia hingga nantinya dapat berlabelkan SAH. Semua sudah kembali normal, semua sudah kembali seperti semua. Sama – sama menjaga #CintaMulia itu indah.
Bahkan mereka sudah merencanakan selepas kuliah nanti, #CintaMulia mereka akan disempurnakan dengan label SAH.
sumber : http://manjaddawajadaa.com
Komentar
Posting Komentar