Hal yang perlu digarisbawahi, di-underline, di-italic adalah: everybody is uniq, nobody is perfect.
Satu hal yang mesti (paling) disyukuri dalam hidup ini adalah: terlahir sebagai seorang muslim.
Hidup itu pilihan. Namun ada hal-hal dalam hidup yang tak memerlukan 'persetujuan' kita. Seperti kita tak pernah bisa memilih dilahirkan dari orangtua yang mana. Tak bisa memilih pula dibesarkan di keluarga seperti apa. Kita hanya perlu menjalaninya sesuai peran masing-masing.
Entah sebagai orangtua, atau sebagai anak. Entah anak pertama, anak tengah, atau anak paling bontot. Kita hanya perlu memaksimalkan peran kita di situ.
Sehebat-hebatnya orangtua mendidik anaknya, pasti punya sisi kekurangan. Misal, orangtua yang diberikan harta berlebih pandai mengatur perekonomian keluarga, justru loyo pada pola asuh terhadap anak. Atau payah dalam hal mengatur keseimbangan gizi keluarga.
Peran anak juga tak melulu 'tersalahkan'. Seperti ada seorang anak yang sudah paham tentang menutup aurat, lalu menyuruh ibunya yang belum mengenakan hijab untuk menunaikan kewajibannya tersebut. Atau ketika orangtua memiliki pemahaman yang keliru tentang sesuatu, si anak kemudian meluruskan hal tersebut.
Peran ANAK PERTAMA juga tak selalu paling benar. Ada kalanya misal si bungsu menegur sang kakak karena malas melaksanakan shalat. Dan sebaliknya, si kakak juga mengajari si bungsu bagaimana harus bersikap dewasa dan bijak melalui teladan yang bisa dicontohkannya. Terutama dalam menghormati kedua orangtua.
Sebagai muslim, kita paham betul Islam sudah mengatur peran kita dalam hidup berkeluarga.
Tak ada orangtua yang sempurna, yang (perlu) ada adalah orangtua yang sama-sama mau belajar memahami dunia dan karakter anak-anaknya. Terutama di jaman yang sudah berbeda dengan jaman mereka dahulu, tentunya tanpa menghilangkan nilai-nilai ketaatan sebagai seorang muslim.
Tak ada ANAK yang sempurna, yang (perlu) ada adalah anak yang mengerti bahwa kekeliruan dan kesalahan orangtuanya merupakan hal yang wajar, tak lantas dijadikan alasan "Orangtua gue aja kayak gitu, yauda gue juga gapapa kaya gitu." Namun justru anak perlu mengambil peran untuk meruntuhkan kesalahan itu, kemudian bersama orangtua membangun pemahaman yang baik.
Tak ada KAKAK atau ADIK yang sempurna, yang (perlu) ada adalah Kakak yang dapat menjadi teladan adiknya tanpa perlu berpikir "Adik gue aja gak pernah baik sama gue." Namun justru kerelaan menjadi pion pertama agar kebaikan itu mengekori di belakang untuk adik-adiknya. Yang (perlu) juga ada adalah ADIK yang mengerti bahwa sosok KAKAK tak selalu benar, ibarat ikan yang pasti ada tulangnya, maka ambilah bagian daging paling enak, lalu buang tulang ikan yang tak berguna. Ambil hal-hal baik dari sang Kakak dan jadikan itu sebagai teladan.
Dan lagi-lagi, tak ada sosok lain yang perlu diteladani bagi kita ummat muslim, selain Rasulullah dan keluarganya.
Semoga tulisan ini dapat mengingatkan kita bahwa peran apapun yang kita mainkan dalam keluarga, adalah sebuah keniscayaan yang mesti kita jalani dengan ikhlas. Tak perlu ada 'pengakuan' apa saja yang sudah kita lakukan untuk keluarga, justru 'keikhlasan' menjalani setiap peran untuk mewujudkan senyum keluarga. Yang tak hanya terlihat dari luar, tapi mampu menumbuhkan rasa saling memiliki dan ketergantungan dalam setiap diri anggota keluarga.
Apapun perannya, teruslah belajar jadi versi terbaik dari peran tersebut.
Bogor, 3 September 2017.
Terimakasih kepada yang telah sudi membaca tulisan ini sampai tuntas. ☺
Komentar
Posting Komentar