Duniaku berubah sejak aku memutuskan bergabung ke dalamnya.
Alasan pertamaku untuk bergabung bisa dibilang klise, yaitu karena semasa SMA
aku mengikuti hal yang serupa. Niatku sudah bulat untuk bergabung bahkan
sebelum aku resmi menjadi seorang ‘mahasiswi’. Ketika ku lihat stand bazaar aku
pun dengan antusias menghampiri stand itu, dan dengan polosnya mahasiswa baru
aku mengatakan ‘aku ingin ikut’ kepada salah satu kaka tingkat. Aku pun
disambut dengan hangat.
Buku saku yang diberikan sangat bermanfaat, saat perjalanan
pulang ke rumah aku membacanya sampai habis. Lalu aku berniat untuk mengikuti
seluruh rangkaian acaranya. Launching Matahari adalah acara pertama yang aku
ikuti. Aku datang pagi-pagi sekali karena takut terlambat. Aku sungguh tak
menyesal mengikutinya. Buatku acara itu bukan hanya sekedar menyuguhkan hal
yang bermanfaat, namun lebih dari pada itu. Ketika ku lihat bagaimana
orang-orang sebelumku itu membuat acara dengan hati, menyertakan keikhlasan
disetiap tindakan. Kesederhanaan mereka membuatku terenyuh. Aku sadar bahwa aku
harus berubah.
Masa-masa matrikulasi pun aku jalani dengan terus mengikuti
rangkaian acaranya. Lama-lama membuat alasanku untuk ikut bergabung berubah
seiring berjalannya waktu. Aku makin sadar bahwa tidaklah cukup sebuah alasan
yang hanya ingin meneruskan perjuangan tapi tanpa dilandasi dengan kesungguhan
dari diri sendiri. Sempat ku berpikir, diri ini tak pantas menjadi bagian dari
mereka. Masa lalu ku yang tak sanggup ku gambarkan menjadikanku minder dan takut.
Kemudian Allah swt. memberiku sebuah pengingat, bahwa ‘seburuk apapun masa
lalumu, masa depanmu masih tetap cerah’. Tersadarlah aku dari keminderan dan
ketakutan yang menyebalkan itu. Lalu, aku pun punya alasan yang tepat untuk
ikut bergabung, yaitu untuk memperbaiki diri.
Aku sangat sadar betul bahwa aku tak sebaik mereka yang
sudah bergabung, ilmuku masih sangat cetek, pengalamanku tidak ada apa-apanya dibandingkan
mereka. Tapi jika ada kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri, kenapa tidak?
Aku ingin mengambil kesempatan itu, untuk lebih dekat kepada-Nya.
Form online OR sudah aku isi dan aku kirim. Saat mengisinya
aku bingung memilih departemen. Aku tak tahu orang seperti aku ini lebih baik
ditempatkan di mana. Lalu aku putuskan untuk memilih dept. Syiar dan dept. PR.
Aku pun mempunyai status baru yaitu ‘anak magang’. Tapi aku ditempatkan di
dept. HRD yang aku tak tahu apa fungsi dan tugasnya. Namun seiring berjalannya
waktu, aku menjadi sadar bahwa diriku ini memang seharusnya berada di sana.
Sampai sekarang pun aku masih betah dan bangga dengan status ‘anak HRD’ (hehe).
Begitu aku bergabung banyak hal yang aku tak tahu
sebelumnya. Dan satu hal yang membuatku kaget adalah ‘hijab’! Awalnya aku
bertanya-tanya dalam hati ‘gimana kita tahu siapa yang ngomong kalo ga keliatan
mukanya?’. Tapi tentu saja seperti yang aku bilang, ilmu dan pengalamanku ini
masih cetek. Aku tak tahu menahu tentang menjaga pandangan dengan lawan jenis.
Lama kelamaan aku sangat merasakan ‘keajaiban’ hijab. Hijab tak menghalangi
kami untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan baik. Justru dengannya
membuat kami terjaga satu sama lainnya.
Menjalani hari-hari sebagai aktivis dakwah sangatlah tidak
mudah, terutama untukku. Sebagai mahasiswi komunikasi sangat sulit buatku untuk
beradaptasi dengan dua ‘tempat’ baru sekaligus yang mempunyai atmosfer yang
berbeda. Ditambah dengan shock culture yang aku rasakan membuat kepalaku pening
dan hatiku gusar. Aku tengah berada di titik di mana aku harus berlaku menjadi
aktivis dakwah yang baik di tempat yang cukup sulit untuk disesuaikan, namun
aku harus tetap menjadi diriku sendiri. Namun berkat Allah swt. teman-teman
yang mendorongku, akhirnya aku bisa beradaptasi dengan lingkunganku.
Alhamdulillah.
Menjadi mahasiswi komunikasi sangatlah menyenangkan. Tapi
jalan tak selamanya lurus, banyak jalan berliku yang harus aku hadapi. Deadline
dan tugas yang seolah tak ada habisnya kadang membuatku lelah dan penat. Setiap
kali aku merasakan itu, aku tahu selalu ada tempat yang menerimaku. Selalu ada
tempat untukku kembali. Forum Rohis Diploma IPB.
Di sana lah aku bisa merasakan kehangatan dan kebersamaan
layaknya keluarga, yang mungkin tak bisa kurasakan sepenuhnya. Berbagi kebahagiaan,
ilmu, pengetahuan, kasih sayang, bahkan kesedihan bersama mereka. Di dalam
lingkaran ini lah aku mulai tumbuh, menjadi manusia yang ingin terus belajar
memperbaiki diri. Aku adalah orang yang sama dengan hampir kebanyakan orang
lainnya. Sering melakukan khilaf, salah, dan kekeliruan. Tapi, seperti biasa,
ada tempat untukku kembali. Tempat di mana banyak mengajarkanku tentang hidup
yang sebenarnya. Menjalani kehidupan dengan penuh syukur dan tanggung jawab
kepada Allah swt.. Dengan masa lalu ku yang ‘jahiliyah’ itu, aku sangat bersyukur
bisa menjadi bagian dari keluarga Forum Rohis Diploma IPB.


Komentar
Posting Komentar