Jika ingin mengetahui seberapa hebat
suatu bangsa, maka lihatlah para pemudanya.
Kalimat tersebut mengandung makna yang sangat
besar dan mendalam, bahwa cikal bakal suatu bangsa yang hebat adalah berasal
dari para pemudanya. Pemuda yang hebat adalah bukan hanya sekedar mampu untuk
memimpin suatu bangsa, tapi lebih dari pada itu, ia juga harus mampu untuk
senantiasa memberikan kehidupan yang layak dan bahagia bagi seluruh rakyat yang
dipimpinnya. Sifat itulah yang dimiliki oleh seorang pemuda yang bernama Fatih
Sultan Mehmed II atau lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih, seorang
pemuda Islam yang dengan sepenuh keyakinan dalam dirinya atas hadits yang
diriwayatkan Rasulullah SAW. dan dengan sekuat tenaga dan pemikirannya berhasil
menaklukan ‘Tembok Angkuh’ Konstantinopel.
Bukan perkara yang mudah untuk berhasil
membobol 3 lapisan tembok yang berdiri angkuh nan gagah dengan tinggi benteng
mencapai 18 meter. Perlu persiapan yang benar-benar matang dan keyakinan yang
penuh dan disertai semangat jihad fi sabilillah. Beberapa orang-orang hebat juga pernah mencoba
membobol tembok Konstantinopel bersama pasukannya, namun karena keangkuhan
temboknya sehingga belum ada yang mampu mengancurkan tembok yang membentang
melintas dari ujung pantai sampai ke ujung pantai tersebut.
Muhammad Al-Fatih yang kala itu
masih berumur 21 tahun seolah mematahkan pendapat yang sudah ada sejak 8 abad
yang lalu, ketika Rasulullah berkata bahwa kota Kontantinopel yang akan lebih
dulu ditaklukan pasukan muslim sebelum Roma, sehingga menjadi sebuah hadits
yang diperebutkan oleh setiap orang pada zaman itu, yaitu “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukan oleh kalian. Maka
sebaik-baiknya pemimpin adalan pemimpinnya, dan sebaik-baiknya pasukan adalah
pasukan yang menaklukannya” (HR. Ahmad).
Muhammad Al-Fatih kecil sadar bahwa
untuk menjadi seorang penakluk Konstantinopel ia harus memantaskan dirinya.
Sehingga ia tak pernah meninggalkan solat rawatib dan tahajud di malam hari,
serta pada umur 8 tahun ia telah menghafal Al-Qur’an. Selain itu ia dibekali
pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai sejarah Islam dan
pertempuran-pertempuran hebat yang dilakukan pemimpin-pemimpin sebelumnya, serta
ia juga fasih dalam 7 bahasa.
Penaklukan yang dilakukan Muhammad
Al-Fatih bersama pasukannya tentu tidak hanya mengorbankan tenaga, melainkan
juga waktu, pikiran, hati, dan keluarga. Proses yang panjang dengan segala
permasalahan yang kompleks harus dihadapi. Tak ayal terkadang semangat para
pasukan mengendor karena melihat mayat saudara mereka yang kian menumpuk setiap
harinya, mereka berpikir seolah peperangan tersebut tidak akan ada hentinya.
Namun, Muhammad Al-Fatih adalah pemimpin yang mau dipimpin, ia tak tinggal diam
dengan keadaan pasukannya yang demikian. Sebelumnya beliau selalu membekali
para pasukannya dengan ilmu Islam, beliau lalu membakar semangat para
pasukannya kembali dengan hadits Rasulullah SAW. bahwa pasukannya akan menjadi
sebaik-baiknya pasukan yang diucapkan dari lisan Rasulullah SAW. sehingga
pasukan Muhammad Al-Fatih adalah pasukan yang bermental baja dengan keteguhan
hati yang bahkan mengalahkan kokohnya tembok Konstantinopel. Seketika pasukan
Muhammad Al-Fatih pun kembali meneriakkan kegarangannya, dan dalam satu malam
terakhir setelah beberapa bulan melakukan penyerangan, tepat pada tanggal 29
Mei 1453 sebelum matahari terbit,
Muhammad Al-Fatih dan pasukannya berhasil menaklukan tembok Konstantinopel yang
selama 800 tahun lamanya berdiri kokoh seolah menantang dunia.
Konstantinopel pun seolah kehilangan
pelindungnya yang selama ini berdiri kokoh nan gagah, kini telah hancur
bersamaan dengan hancurnya kerajaan Byzantium yang berada di dalamnya.
Penaklukan yang telah berhasil
dilakukan tidak membuat seorang Muhammad Al-Fatih sombong dan merasa puas.
Namun jauh dari pada itu, beliau bersyukur kepada Allah swt. dan bahagia karena
telah berhasil membuktikan hadits Rasulullah SAW., beliau telah membuktikan
bahwa apapun yang diucapkan oleh lisan Rasulullah SAW., adalah suatu kebenaran
dari Allah swt. yang patut diyakini dalam diri setiap muslim. Maka yang beliau
lakukan tatkala memasuki gerbang Konstantinopel adalah beliau pergi ke gereja Aya
Sophia lalu menjadikan gereja tersebut sebagai masjid, dan pada sore harinya
adzan pertama pun berkumandang di Konstantinopel.
Muhammad Al-Fatih pun seketika
menjadi pemimpin di Konstantinopel, dan sudah barang tentu kota Konstantinopel
semakin berjaya dibawah kekuasaan beliau. Semua masyarakatnya hidup dengan
layak, tentram, aman, damai, dan bahagia. Setelah berhasil menaklukan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih
merasa bahwa ia perlu menggenapkan misi Rasulullah SAW., yaitu hendak
menaklukan kota Roma. Namun sayangnya, ketika berada dalam perjalanan menuju
Roma, ia dibunuh dengan cara diracun oleh dokternya sendiri yang ternyata
merupakan orang suruhan dari Roma.
Begitulah sepenggal kisah penaklukan sebuah kota
kecil yang telah menghilangkan banyak nyawa dan darah, serta pengorbanan dan
perjuangan yang amat lelah dan panjang. Sebuah pertempuran yang amat sangat
berpengaruh bagi perkembangan Islam di dunia, dan penaklukan tersebut dipimpin
oleh seorang pemuda Islam bernama Muhammad Al-Fatih.

Komentar
Posting Komentar