Langsung ke konten utama

1453 : Penakluk “Tembok Angkuh” Konstantinopel

Jika ingin mengetahui seberapa hebat suatu bangsa, maka lihatlah para pemudanya.

Kalimat tersebut mengandung makna yang sangat besar dan mendalam, bahwa cikal bakal suatu bangsa yang hebat adalah berasal dari para pemudanya. Pemuda yang hebat adalah bukan hanya sekedar mampu untuk memimpin suatu bangsa, tapi lebih dari pada itu, ia juga harus mampu untuk senantiasa memberikan kehidupan yang layak dan bahagia bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya. Sifat itulah yang dimiliki oleh seorang pemuda yang bernama Fatih Sultan Mehmed II atau lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih, seorang pemuda Islam yang dengan sepenuh keyakinan dalam dirinya atas hadits yang diriwayatkan Rasulullah SAW. dan dengan sekuat tenaga dan pemikirannya berhasil menaklukan ‘Tembok Angkuh’ Konstantinopel.
Bukan perkara yang mudah untuk berhasil membobol 3 lapisan tembok yang berdiri angkuh nan gagah dengan tinggi benteng mencapai 18 meter. Perlu persiapan yang benar-benar matang dan keyakinan yang penuh dan disertai semangat jihad fi sabilillah. Beberapa  orang-orang hebat juga pernah mencoba membobol tembok Konstantinopel bersama pasukannya, namun karena keangkuhan temboknya sehingga belum ada yang mampu mengancurkan tembok yang membentang melintas dari ujung pantai sampai ke ujung pantai tersebut.
Muhammad Al-Fatih yang kala itu masih berumur 21 tahun seolah mematahkan pendapat yang sudah ada sejak 8 abad yang lalu, ketika Rasulullah berkata bahwa kota Kontantinopel yang akan lebih dulu ditaklukan pasukan muslim sebelum Roma, sehingga menjadi sebuah hadits yang diperebutkan oleh setiap orang pada zaman itu, yaitu “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baiknya pemimpin adalan pemimpinnya, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang menaklukannya” (HR. Ahmad).
Muhammad Al-Fatih kecil sadar bahwa untuk menjadi seorang penakluk Konstantinopel ia harus memantaskan dirinya. Sehingga ia tak pernah meninggalkan solat rawatib dan tahajud di malam hari, serta pada umur 8 tahun ia telah menghafal Al-Qur’an. Selain itu ia dibekali pengetahuan dan wawasan yang luas mengenai sejarah Islam dan pertempuran-pertempuran hebat yang dilakukan pemimpin-pemimpin sebelumnya, serta ia juga fasih dalam 7 bahasa.
Penaklukan yang dilakukan Muhammad Al-Fatih bersama pasukannya tentu tidak hanya mengorbankan tenaga, melainkan juga waktu, pikiran, hati, dan keluarga. Proses yang panjang dengan segala permasalahan yang kompleks harus dihadapi. Tak ayal terkadang semangat para pasukan mengendor karena melihat mayat saudara mereka yang kian menumpuk setiap harinya, mereka berpikir seolah peperangan tersebut tidak akan ada hentinya. Namun, Muhammad Al-Fatih adalah pemimpin yang mau dipimpin, ia tak tinggal diam dengan keadaan pasukannya yang demikian. Sebelumnya beliau selalu membekali para pasukannya dengan ilmu Islam, beliau lalu membakar semangat para pasukannya kembali dengan hadits Rasulullah SAW. bahwa pasukannya akan menjadi sebaik-baiknya pasukan yang diucapkan dari lisan Rasulullah SAW. sehingga pasukan Muhammad Al-Fatih adalah pasukan yang bermental baja dengan keteguhan hati yang bahkan mengalahkan kokohnya tembok Konstantinopel. Seketika pasukan Muhammad Al-Fatih pun kembali meneriakkan kegarangannya, dan dalam satu malam terakhir setelah beberapa bulan melakukan penyerangan, tepat pada tanggal 29 Mei 1453  sebelum matahari terbit, Muhammad Al-Fatih dan pasukannya berhasil menaklukan tembok Konstantinopel yang selama 800 tahun lamanya berdiri kokoh seolah menantang dunia.
Konstantinopel pun seolah kehilangan pelindungnya yang selama ini berdiri kokoh nan gagah, kini telah hancur bersamaan dengan hancurnya kerajaan Byzantium yang berada di dalamnya.
Penaklukan yang telah berhasil dilakukan tidak membuat seorang Muhammad Al-Fatih sombong dan merasa puas. Namun jauh dari pada itu, beliau bersyukur kepada Allah swt. dan bahagia karena telah berhasil membuktikan hadits Rasulullah SAW., beliau telah membuktikan bahwa apapun yang diucapkan oleh lisan Rasulullah SAW., adalah suatu kebenaran dari Allah swt. yang patut diyakini dalam diri setiap muslim. Maka yang beliau lakukan tatkala memasuki gerbang Konstantinopel adalah beliau pergi ke gereja Aya Sophia lalu menjadikan gereja tersebut sebagai masjid, dan pada sore harinya adzan pertama pun berkumandang di Konstantinopel.
Muhammad Al-Fatih pun seketika menjadi pemimpin di Konstantinopel, dan sudah barang tentu kota Konstantinopel semakin berjaya dibawah kekuasaan beliau. Semua masyarakatnya hidup dengan layak, tentram, aman, damai, dan bahagia. Setelah berhasil menaklukan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih merasa bahwa ia perlu menggenapkan misi Rasulullah SAW., yaitu hendak menaklukan kota Roma. Namun sayangnya, ketika berada dalam perjalanan menuju Roma, ia dibunuh dengan cara diracun oleh dokternya sendiri yang ternyata merupakan orang suruhan dari Roma.
Begitulah sepenggal kisah penaklukan sebuah kota kecil yang telah menghilangkan banyak nyawa dan darah, serta pengorbanan dan perjuangan yang amat lelah dan panjang. Sebuah pertempuran yang amat sangat berpengaruh bagi perkembangan Islam di dunia, dan penaklukan tersebut dipimpin oleh seorang pemuda Islam bernama Muhammad Al-Fatih.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hijrah ke London? Haruskah?

Kalau menurut Band The Changcuters hijrah berarti ke London? Menurut saya, TIDAK! Kenapa? Karena hijrah itu perpindahan dari hal yang buruk menuju hal yang baik, perubahan dari yang merugikan menuju kebermanfaatan, serta meninggalkan kekufuran menuju kemuliaan. Karena hijrah itu mengganti ketakutan menjadi kekuatan, mengganti kekhawatiran menjadi keamanan, karena hijrah mengubah segalanya menuju konteks ‘kebenaran’. Makna dari lirik lagu Hijrah ke London memang tidaklah salah, karena hijrah adalah perpindahan, bukan? Namun dalam konteks ini, saya lebih menekankan pada hijrah dalam arti sebenarnya. Sebuah ‘kata’ tentu memiliki pengertian dan makna yang beragam, namun pasti ada suatu pengertian dan makna secara umum tentang ‘kata’ tersebut. Tak terkecuali dengan ‘Hijrah’. Apa sih Hijrah? Kalau mau iseng nyari di Google dengan keyword ‘Definisi Hijrah’, kita akan disuguhkan dengan rentetan sumber yang berbeda-beda, yang kalau kita klik akan memuat seluruh penjelasan mengenai ‘H...

Keterasiangan yang Mulia

Kadang sepi menjadi teman setiap orang, terutama dalam kesendiriannya. Merasa terasingkan dari sekeliling yang bersungut-sungut memamerkan suka cita. Seolah mereka orang paling bahagia di dunia. Mati-matian mengejar sesuatu yang bahkan tidak bisa dibawa mati, hanya demi sebuah kebahagiaan fana. Padahal, betapa berbahagianya kalian yang merasa terasingkan. Karena : “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208) Terasingkan adalah suatu keberuntungan. Karena Allah menjanjikan pada setiap yang tetap berbuat baik di saat manusia lain rusak, maka Surga-lah jaminannya. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pe...

Orang-orang Hebatku

Halo manusia-manusia ajaib! Kenapa ajaib? Karena kalian begitu istimewa buatku. Ajaib karena dengan mudahnya membuatku jatuh hati pada kalian. Ajaib karena dengan mudahnya kalian membuatku tertawa meski hatiku tengah tak beres. Ajaib karena bersama kalian segalanya terasa lebih mudah dan menyenangkan. Kalian bukan sekedar teman se-kampus ataupun se-jurusan, entah apa namanya aku tak tahu, mungkin 'sahabat' tapi aku rasa kata itu saja tak cukup untuk menggambarkannya. Tapi yang jelas kebahagiaan kalian adalah salah satu yang penting untukku. Perbedaan di antara kita tidaklah sedikit, mulai dari karakter, sifat, perilaku, kesukaan, ketidaksukaan, hobi, dan sebagainya. Tapi dengan hal itu tidak mumbuat kita terpecah-belah, justru dengannya kita memaham arti sebuah perbedaan, bukan untuk disatukan, tapi berjalan berdampingan. Kesibukan diri masing-masing membuat kita jarang sekali berkumpul dengan lengkap. Seringnya aku rindu masa-masa kita bersama dengan lengkap. Seperti s...