Ketika kita mulai tumbuh dewasa...
Ketika kita mulai merasakan hal yang tak biasa. Suatu perasaan baru yang muncul di hati kita yang malang ini, hati yang mau tak mau harus menerimanya, meskipun kita menolaknya ratusan bahkan ribuan kali.
Hati kita ini sungguh malang nasibnya, karena harus merasakan sesuatu yang mau tak mau harus menerimanya tetapi kita juga harus menekannya dalam-dalam agar tidak terucap sampai ijab kabul terucap.
Mungkin dahulu ketika kita belum dewasa, belum mengerti dan mamahami arti perasaan ini sesungguhnya. Saat dahulu kita pikir bahwa perasaan ini lah yang kita rasakan, tetapi ternyata kita keliru, kita tertipu oleh sesuatu hal yang kita anggap perasaan ini, perasaan yang tak boleh terucap sebelum ijab kabul terucap.
Perasaan khusus ini hanya dirasakan pada satu orang, orang yang kita pikir akan memliki hati kita untuk selamanya. Tapi tidak sedikit orang di luar sana yang keliru dengan orang pilihannya. Mereka pikir orang itu akan selamanya untuk mereka tetapi Allah swt. berkehendak lain. Bagaimana pun kita merencanakan impian kita bersama seseorang, pada akhirnya tetap Allah swt. yang menentukkan dengan siapa kita akan hidup bersama.
Jika saja kita bisa memilih dengan siapa kita berjodoh.
Jika saja kita bisa memilih untuk siapa perasaan ini sepenuhnya.
Jika saja kita bisa memilih untuk siapa perasaan ini selamanya.
Jika saja kita bisa memilih perasaan apa yang hendak kita rasakan pada seseorang.
Ratusan kali bahkan ribuan kali kita menolak dan berusaha melupakan perasaan yang tumbuh di hati kita yang malang ini, tetapi pada dasarnya hati memang mempunyai pilihannya sendiri. Hati mempunyai pilihan yang tak bisa dicegah bahkan oleh yang mempunyai hati itu sendiri. Sekuat tenaga bahkan mungkin melebihi kemampuan yang kita miliki, meskipun kita sudah berjalan jauh sampai ke ujung dunia untuk berusaha mencegahnya, walaupun kita sudah tenggelam di dasar laut yang paling dalam, sampai kapanpun hati tetap mempunyai pilihannya sendiri...
Meski sejauh apapun kita sudah melangkah meninggalkan perasaan ini, kita tetap akan kembali pada titik yang sama, melihat pada arah yang sama, dan berakhir pada muara yang serupa.
Meski sejauh apapun kita sudah melangkah meninggalkan perasaan ini, kita tetap akan kembali pada titik yang sama, melihat pada arah yang sama, dan berakhir pada muara yang serupa.
dan sekali lagi, mau tidak mau kita harus menerimanya.
Komentar
Posting Komentar